Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

KEHILANGAN

Satu  lagi kakakku pergi meninggalkan aku, kak Novrani Sitohang dan Kak Kristina Butar Butar
sediiihhhh bukan main, aku bingung menjelaskannya. Kenapa sih satu satu pergi? Sebentar lagi kak Debow juga pergi, berawal dari bang Tumpal, kemudian Bg Ihot dan kak Melfa, sekarang kak Vani, Kak Utin dan besok kak Debow. Kesal karena aku belum puas menikmati bernaposo bersama mereka, rasanya ada yg kurang aja.  Kakak dan abang, sejujurnya aku belum siap loh menjadi BPH tanpa kalian, nanti siapa tempat ku bertanya? Trus siapa yg memperhatikan aku. Buat kak Debow, kak ambil S2 di UNDIP dong, pleaseee.
Buat bg Tumpal, bg aku kangen makan bareng ito kesayanganku looohhh.
Kehilangan kalian semua itu kayak kehilangan pacar tapi bedanya pacar bisa cari baru, tapi kalau abang dan kakak mana bisa cari baru. 
Bisakah aku jadi seorang Lisda yg tegar dan kuat jadi pengurus tanpa kalian, dulu ada kalian aja aku gak kuat, apalgi sekarang tanpa kalian. Aku tahu ini egois, tapi inilah bentuk ketakutanku abang dan kakak. Aku gak punya tempat bersandar lagi, nanti siapa yg marahin aku kalau aku nakal? Terus siapa dong yg manjain aku? Kalian sering sering ya telepon aku, dan jangan lupa main ke Semarang.
SUMPAH AKU SAYANG KALIAN.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pahlawan atau Pisau?

Malam ini aku merasa menjadi seorang paling jahat di dunia, ya aku seorang gadis berumur 20 tahun namun dapat merusak hidup seseorang yang baik dan tidak sepatutnya terjebak dalam keadaan ini. Kenapa dulu aku menjadi wanita lemah yang terlalu mengikuti emosi dalam diri, seandainya dulu aku kuat untuk menghadapi tekanan dan orang orang di sekitarku pasti dia tidak perlu menjadi sosok pahlawan disaat itu. Kini dia tidak lagi seorang pahlawan di mataku, dia telah menjadi sosok yg aneh bahkan menakutkan bagiku.
Dia dicibir banyak orang karena tindakannya namun aku yg tidak tahu apa2 ikut merasa bersalah, setidaknya ada peranku di dalam keadaannya sekarang. Ya kejadian di malam itu, kenapa? kenapa aku harus menuruti emosi dan kalah akan  tekanan? Dan kenapa harus dia yg terpilih untuk menghilangkan rasa takut dalam diriku? Tuhaaaannnnnn aku menyesal dan merasa bersalah, air mata telah ku jatuhkan akan keadaan ini bahkan aku ingin teriak agar semua tahu aku menyesal, tapi aku tidak bisa Tuhan, aku takut mereka mencercaku dan aku takut mereka membenciku. Sebagian bilang itu bukan salahmu lis, tapi jauh di dasar hatiku aku tahu aku ikut bersalah. Kau pahlawanku? kenapa sekarang kau menunjukan sikap aslimu? Aku malu dan takut melihatmu sekarang, kau tahukah bahwa lebih baik dulu kau tidak menjadi pahlawan bagiku daripada sekaarang kau membuat aku seperti pecundang sejati. Ingin ku maki engkau dan menampar wajahmu, tapi har\tiku tak sanggup melakukannya. Kenapa ini yg engkau berikan disaat semua telah mulai membaik, aku harus membangun ulang pondasi yg sudah mulai kokoh. Tahukah engkau bahwa aku sekarang tak sanggup melihat ke depan saat mengingat keadaanmu sekarang, aku tak mampu memikirkan masa depan gedung yang telah kita bangun saat pondasinya telah kau hancurkan, Kau adalah partnerku dan jangan kau coba untuk jadi pisau bagiku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS